Informasi Tentang Berita Kesehatan

Gagal Ginjal Kronis: Cerita Pemuda Harus Rutin Cuci Darah

Gagal Ginjal Kronis: Cerita Pemuda Harus Rutin Cuci Darah

Gagal Ginjal Kronis: Cerita Pemuda Harus Rutin Cuci Darah

Medan, 2026 – Gagal ginjal kronis bukan lagi masalah orang tua. Kisah pemuda berusia 23 tahun ini menjadi bukti nyata bahwa penyakit serius dapat situs mix parlay menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Ia harus menjalani cuci darah secara rutin untuk mempertahankan fungsi tubuhnya. Kondisi ini tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga menuntut mental dan finansial yang besar.

Awal Mula Penyakit dan Diagnosis

Pemuda ini, sebut saja Raka, mulai merasakan gejala lelah yang ekstrem, bengkak di kaki, dan tekanan darah tinggi sejak dua tahun terakhir. Awalnya, gejala depo 10k tersebut dianggap kelelahan akibat pekerjaan. Namun, setelah mengalami mual, muntah, dan penurunan berat badan drastis, Raka memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.

Dokter melakukan serangkaian tes, termasuk pemeriksaan fungsi ginjal dan USG ginjal. Hasilnya mengejutkan: Raka didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir. Dokter menjelaskan bahwa ginjalnya hanya berfungsi kurang dari 15% dari kapasitas normal. Pilihan satu-satunya untuk bertahan hidup adalah cuci darah atau transplantasi ginjal.

Rutinitas Cuci Darah yang Menantang

Sejak diagnosis itu, Raka harus menjalani cuci darah tiga kali seminggu. Setiap sesi berlangsung sekitar empat jam. Proses ini menyaring racun dan kelebihan cairan dari darah yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan baik.

“Awalnya berat, saya merasa lelah dan mual setelah setiap sesi. Tapi lama-lama saya mulai terbiasa,” ujar Raka. Ia juga mengatur pola makan ketat, membatasi garam, protein, dan cairan. Dokter menekankan pentingnya disiplin karena kegagalan mengikuti aturan bisa memicu komplikasi serius seperti gagal jantung atau anemia berat.

Dampak Psikologis dan Sosial

Selain fisik, cuci darah rutin memengaruhi kehidupan sosial dan mental Raka. Ia harus menyesuaikan jadwal kuliah dan pekerjaan. Beberapa teman sempat tidak mengerti kondisinya. Raka mengakui, dukungan keluarga menjadi kunci utama agar tetap semangat menjalani terapi.

Psikolog kesehatan menekankan pentingnya support system bagi pasien gagal ginjal muda. “Rasa stres dan depresi sering muncul karena pasien kehilangan kebebasan bergerak dan rasa normalitas. Dukungan keluarga dan teman sangat krusial,” kata psikolog yang menangani pasien ginjal di Medan.

Pentingnya Deteksi Dini

Kasus Raka menjadi pengingat bahwa gagal ginjal tidak bisa diabaikan. Gejala awal seperti sering lelah, tekanan darah tinggi, bengkak di kaki, atau penurunan nafsu makan harus diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan rutin fungsi ginjal bisa membantu deteksi dini, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih awal sebelum kondisi memburuk.

Selain itu, gaya hidup sehat, konsumsi air cukup, dan menjaga tekanan darah serta gula darah penting untuk mencegah kerusakan ginjal. Dokter juga menekankan pemeriksaan rutin bagi orang dengan riwayat keluarga penyakit ginjal.

Harapan dan Pesan untuk Pemuda Lain

Raka tetap optimis meski hidupnya berubah drastis. Ia ingin berbagi pesan kepada teman sebaya agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan. “Jangan sepelekan gejala yang muncul. Hidup sehat itu investasi,” ujarnya.

Kisah Raka menunjukkan bahwa gagal ginjal kronis bisa terjadi pada usia muda, tapi dengan pengelolaan yang disiplin, dukungan keluarga, dan perawatan medis, kualitas hidup tetap bisa dijaga. Masyarakat perlu lebih sadar akan kesehatan ginjal, agar kasus serupa bisa dicegah atau ditangani lebih awal.

Exit mobile version